Hari Ayah Nasional

By 11/18/2015

Walaupun gue bukan salah satu yang ikut bersemarak dan melakukan perayaan kecil ketika hari ayah, karena menurut gue setiap hari adalah hari ayah & ibu nasional. Tidak perlu perayaan khusus atau hadiah khusus, cukup doa ketika kening menyentuh lantai sujudmu. 

Gue kira itu lebih dari cukup.



Tapi, di hari ayah ini (walaupun sudah terlambat) gue mau mendeskripsikan singkat, apa makna ayah buat gue.

Buat gue, ayah itu adalah seseorang yang menurunkan dan mengajarkan gue untuk pergi ke tempat baru. Ingat jelas di memori kepala gue, seseatu yang tak pernah lupa dan akan jadi kenangan yang terus mengelayut. 

Waktu itu gue berumur sekitar enam atau tujuh tahun, Papa (panggilan ayah buat gue) mengajak gue pergi ke kantornya, karena masih kecil gue tidak bertanya lebih lanjut tujuannya apa. Gue hanya kesenangan dan girang karena akan pergi dan segera berganti baju. Hari itu tepat hari minggu, papa libur kerja dan hari itu kita semua sedang menjalankan puasa Ramadhan, dan gue anak kecil yang sotoy ini ikut-ikut berpuasa.

Kantor Papa ada di Cilangkap, sedang rumah gue ada di Kelapa Gading. Jangan berpikir kalau gue akan naik kendaraan pribadi, no! gue naik kendaraan umum. Kebayang gak jauhnya? Gue ingat betul, Papa mengunakan kemeja lengan panjang yang lengannya digulung sesiku, warna krem kehijauan dengan celana hitam dan sandal kulit mulai lusuh. Perjalanan dari rumah dimulai dengan naik bis, gue duduk samping Papa, gue duduk dekat jendela, kata Papa supaya gue bisa melihat-lihat sekitar. Tidak lama, papa langsung ketiduran dan gue tetap asik melihat apa yang ada di luar jendela. Rambut tipis kepirangan gue dibiarkan tergerai, angin yang berhembus melalui jendela bis membuatnya berterbangan.

Bis itu terus melaju, hingga keluar jalan tol dan gue melihat Papa yang kucek-kucek mata karena baru terbangun. Papa kaget, karena sudah sampai dan segera bergegas turun dari bis. Papa mengajak gue menyebrang, dan menunggu angkot lain yang akan mengantar ke kantor papa.

"Pa, kita naik angkot warna apa?"

"Merah" jawab Papa.

"Aku bantuin lihat ya!"

"Pa, itu merah, Pa..." seru gue berisik.

"Bukan merah yang itu, lihat yang ada angka 05"

"Hmm oke"

Selagi menunggu angkot yang dimaksud, papa berkali-kali menawarkan gue minum, tapi gue selalu menolak dan dengan sombong gue jawab "aku puasa Pa, aku juga ga haus. Papa aja deh yang minum".

Berselang-seling angkot warna merah lewat, tapi sepertinya angkot warna merah yang jenisnya banyak itu bukan angkot yang dimaksud. Mungkin terlalu lama menunggu, akhirnya Papa memberhentikan angkot secara asal, dan bercakap sebentar dengan pak supir yang intinya untuk ketujuan itu harus sambung angkot 2x dan bisa naik angkot ini. Papa pun menyetujuinya dan mengajak gue naik. Di dalam angkot kecil itu, hawa mengantuk mulai datang menghampiri gue. Tidak lama akhirnya gue tertidur di samping Papa. Papa masih sibuk melihat jalan yang entah ada dimana.

"Yah kita kelewatan" ucap Papa yang suaranya membangunkan gue. "Kiri bang!" sambung Papa berikutnya.

"Papa tadi ketiduran juga" lanjutnya setelah membayar uang angkot itu.

Papa itu pekerja keras, gurat wajahnya menunjukan letih luar biasa, tapi tidak pernah sekalipun kata letih itu keluar dari mulutnya, sampai gue sebesar sekarang. Gue yang waktu itu masih kecil, hanya mengangguk seperti memahami kenapa Papa ketiduran di angkot.

"Ayu (panggilan gue dirumah) kalau kita naik angkot, nanti tunggunya lama kaya tadi, tapi kalau naik angkot sekali yang sering lewat itu, terus jalan, lebih cepet sampai. gimana? nanti kita lewat kebun dan sungai kecil, kamu kan suka lewat sungai."

Gue hanya mengangguk dan tidak lama, Papa segera memberhentikan angkot yang dimaksud. Didalam angkot, Papa merangkul gue, memposisikan kepalan gue untuk bersandar di dadanya, mungkin takut kalau anak bungsunya capek. Tapi gue sendiri tak merasakan capek sedikit pun. Malah gue tidak sabar untuk segera sampai dan melihat sungai kecil yang dimaksud Papa.

Benar kata Papa, jalan yang harus kita lalui lewat kebun dan sungai kecil. Sungai itu alirannya deras. Gue selalu suka melihat aliran sungai, aliran sungai teratur, selalu mengarah ke suatu tujuan, bergemericik ramai, kadang suaranya teduh. Gue selalu suka melihat semua adegan itu.

Papa membolehkan gue untuk memasukan tangan gue ke sungai, kata Papa biar gue merasakan aliran sungainya. Gue kegirangan. Tangan gue masuk kedalam sungai kecil itu. Tangan kecil gue merasakan air yang menabrak telapak tangan. Sebentar saja, lalu Papa melanjutkan perjalanan.

"Ayu, nanti kalau kamu besar, kamu harus banyak keliling, jalan-jalan ke tempat baru, kayak sekarang. Kamu capek?"

Gue mengeleng.

Papa melanjutkan bicaranya.

"Kalau kamu sering ketempat baru, kamu jadi tahu banyak hal, apa saja, dimana saja. Kamu akan selangkah lebih tahu kalau kamu sering mencoba ke tempat baru. Sekarang kamu tahu kan, kalau disini ada sungai yang alirannya deras, kamu bisa bilang ke kakak kamu dan pasti mereka tidak tahu. Artinya, kamu selangkah lebih tahu, hebat kan?"

Gue hanya diam. Gue saat tidak sedikit pun gue merasakan capek karena perjalanan cukup jauh untuk anak seumur gue dan panas ditambah gue ikut berpuasa. Dan gue selalu ingat kata-kata Papa saat itu, "pergi lah ke tempat baru dan jelajahilah!"

Dari hari itu, Papa lah yang terus mengajak gue dengan semangat menjelajah tempat baru. Mulai dari menyisiri sungai belakang rumah kakek di Magetan yang tembus kuburan cina, masuk hutan konservasi di Gunung Salak, kesasar dan dimarahi petugas disana, naik sampai puncak kebun teh di Puncak Pass, berenang ke tengah laut di Kuta menikmati matahari terbenam, beberapa kali ke Puncak dan selalu diajak untuk mencari jalan yang tidak biasa dilewati, kadang sesekali berhenti untuk menawar pisang yang dijajakan oleh penduduk lokal, Bromo, Malang, Madura, Lampung, Solo, Jogja dan masih banyaaaaaaaak lagi!

Papa yang lebih dulu membawa sepatu olahraga gue, bahkan tanpa gue minta jika akan pergi, seperti sudah menjadi standar prosedur. Bukan hanya jalan-jalan ke tempat wisatanya, Papa selalu mengajak gue ke tempat yang tidak banyak orang kunjungi, ke pasar tradisional, ke warung kopi sederhana, ke tempat kita bisa berinteraksi dengan banyak warga lokal, ke tempat yang tidak tau akan berakhir dimana, ke tempat yang bisa kasih lihat ke gue kalau dunia ini luas dan belajar lah dari apapun yang gue lihat, karena itu semua tidak akan dijelaskan oleh guru manapun.

Dan sampai saat ini. 


Ketika umur gue sudah menginjak seperempat abad, Papa masih semangat untuk jalan-jalan. Bedanya, sekarang Papa lebih sering jalan-jalan dengan partner hidupnya, Mama *untungnya gue juga sudah punya partner mbolang sendiri* X'))))) dan jangan tanya Papa & Mama sudah kemana saja, gue sebagai anaknya merasa tersaing, kzl!

Sekarang pun Papa tidak heran kalau ke tempat baru, gue selalu hilang, karena gue yang lebih dulu menjelajah.  Papa juga tidak heran kalau gue bisa bercerita tentang tempat ini, tempat itu, selama gue merantau.

"Naik kendaraan umum atau gunakalah kaki mu sendiri, berjalan lah sejauh mungkin, jadi kamu tahu apa yang orang tidak tahu karena mereka naik kendaraan pribadi"

Papa yang mewarisi darah "mbolang"-nya ke gue, yang banyak mengajarkan kalau dunia terlalu sempit hanya sekitar rumah dan komplek. Kalau kaki akan lemah jika hanya jalan ketempat yang itu itu saja, kalau mata terlalu gelap melihat apa yang dibatasi tembok. Jadi, jangan heran kalau gue selalu merasa haus untuk berdiam diri, Papa yang mewarisi itu semua.

Setiap orangtua pasti punya cara pengajaran yang berbeda ke anak-anaknya. Pun ayah gue. Tidak ada benar atau salah, karena mereka hanya mengajari untuk seseorang yang dicintainya dengan caranya.


Selamat Hari Ayah Nasional,
untuk Papa dan semua Ayah di seluruh dunia.



dari,
anakmu yang ketika menulis ini meneteskan air mata, rindu dan bangga.





*Sayangnya, gue gak punya foto kalau jalan-jalan sama Papa*

*Papa gak dipajang-dan-dipamerin-able kalau foto! X'))))*

Cinta ke Lima Kota

By 11/17/2015

Menurut gue, pergi merantau itu banyak banget yang harus diurusi dan disiapin. Siap-siapnya lebih ribet kalau lo mau kentjan sama gebetan yang udah di taksir lama atau anak instagram yang mau World Wide Meet *dikepruk anak instagram*.

Mulai dari berkas-berkas kepindahan yang melegalkan gue untuk tinggal di kota yang baru dan membuat gue kemungkinan kecil dijaring satpol PP kalau keluar malam karena tidak punya kartu penduduk, uang saku buat sekedar beli Nu Milk Tea sampai keperluan untuk hidup disana, tapi lebih dari itu, banyak hal lain yang harus gue siapin, termasuk mental dan raga gue yang siap jauh dan terbentang jarak ratusan kilometer dari daftar-cinta-hidup gue; mulai dari orangtua, keluarga, pacar dan Ondek dan sekarang bertambah satu, #OrangeBoxFamily. Nyebelin!

Bagian ini paling tersedih dan ternyebelin!

Seperti ada air yang memenuhi rongga paru-paru gue ketika pertama kali Ilmi dan Sari harus pamitan dan bilang kalau dia sebentar lagi take off. Mimpi ini perlahan jadi nyata, ketakutan ini perlahan menjadi sebuah sosok yang jelas, yang bernama perpisahan.

Banyak banget terlintas dipikiran gue, akankah gue bertemu seperti Orange Box Family di tempat baru, yang rasa toleransinya begitu luas atau sebaliknya, khawatir jangan-jangan mereka yang menemukan penganti Orange Box Family dan keberadaan kita mulai bergeser tingat prioritasnya.

"True friends never apart, maybe in distance, but never in heart"

And yes, i do believe that!

Hey, Orange Box Family!

Kalian yang semua sudah terpisah zona dan bagian waktu, yang bertemu tak semudah dulu hanya di sekitaran Blok M, yang kini tawa mu hanya bisa kudengar lewat kata "HAHAHA" dari group chat.

Kalian semua yang sama-sama sedang berjuang mengatasi semua permasalahan baru di lingkungan baru yang sama sekali tak sekalipun pernah terpikir, mengatasi ego, mencoba membuat batas kesabaran lebih luas, atau berkali-kali mencoba meredam amarah dan melimpahkannya pada halaman group chat.

Kalian semua yang sama-sama sedang mengalami fase evolusi, menjadi satu tahapan lebih baik.

Kalian semua yang selalu kehabisan kata buat gue deskripsikan, tapi dengan mudahnya gue menyebut kalian jawaban atas doa yang selalu gue pinta kepada pemilik langit dan semesta.

Sampai bertemu lagi, tujuh bulan dari sekarang.

Sampai pada saatnya, tawa kita tidak lagi melalui jaringan internet, senyum senyum yang terbentuk lebar, pelukan hangat kalian.

Sampai pada waktunya.

Menemukan dan menjadi bagian Orange Box Family di hidup gue ibarat sebuah pencapaian tertinggi hubungan sosial orang dewasa-walaupun tingkahnya kurang lebih seperti kanak-kanak-tapi tak mengapa.

Percaya lah, hal baik akan datang setalah kalian lulus ujian ini.

Semua yang baik akan selalu datang, untuk kalian, minimal ketika kalian membaca ini dan meng-amini.
 




Salam sayang dari Situbondo yang panas dan terik,
dan belum datang hujan,


pnooo. 

By 9/05/2015

Kenapa sih Tuhan kadang sengaja membuat jarak?


Karena Tuhan mau kasih unjuk siapa yang bersedia menunggu, siapa yang tetap berada di sisi mu ketika fisik tak bisa tergapai atau siapa yang akan datang, pergi dan tetap di hati.



the-Roti Gempol-thingy

By 4/01/2015

Sekian lama absen dari dunia per-blog-an lalu muncul dengan judul yang absurd. Yah, tentang sebuah warung roti bakar sederhana di kota mBandung; roti gempol.

Mas partner yang sabar bersama saya paham betul kalau saya pemilih kalau makan, kurang suka wisata kuliner apalagi eksperimen makanan baru. Lidah saya hanya tahu dua rasa, enak dan tidak enak. Mana bisa lidah saya tahu ini rasa lada, rasa bawang putih, rasa kemiri apalagi rasa dengan wujud dan nama yang aneh. Jadi, kalau kita sedang mbolang, pasti cari makanan yang aman di lidah saya.

Roti bakar, sederhana dan siapa yang tidak suka makan roti, dalam olahan apapun, pun saya. Akhirnya lah pas ke mBandung saya memutuskan untuk kesana, makan roti bakar di roti gempol. Berbekal petunjuk dari mbak mbak di Google maps, sampai lah saya ke tempat tujuan. Pokoknya tinggal searching "Roti Gempol" kemudian tanpa diminta si mbak mbak Google maps akan memberi petunjuk kemana kita harus berjalan. Tempatnya agak masuk ke dalam perumahan, tapi tidak begitu jauh dari jalan besar dan terimakasih kepada si mbak Google maps baik hati karena memberi petunjuk dengan tepat.

Saya memesan roti bakar keju telur daging dengan roti gandum dan segelas kopi susu panas, pun mas partner saya. Jangan berekspetasi lebih kalau tempat ini seperti kafe atau sejenis tempat nongkrong yang sedang happening, bukan... hanya sebuah kedai roti bakar biasa yang sepertinya bergabung dengan rumah si empunya. Tempat sederhana, tidak begitu ramai, dan nyaman—versi saya yang bukan termasuk golongan suka makan di tempat ramai apalagi tempat makan hitz ala Instagram.


Roti bakar di roti Gempol; diambil dari Instagram SherinaSinna

Sepanjang disana saya dan mas partner ngobrol banyak hal, mulai dari Haji Lulung, BPJS, cerita tentang perjalanan saya ke Bromo, cerita tentang kuliah mas partner saya, jurusan kuliahnya, tentang kampusnya dan apa saja yang terlintas di kepala kita, sambil merencanakan perjalanan untuk besok, menyandarkan punggung di kursi panjang yang disediakan di sana, menyeruput kopi perlahan-lahan sebelum kopi terlanjur dingin, karena menurut saya kopi selalu lebih baik dinikmati kala panas. Sesekali, mengamati pengunjung yang datang, yang saya tandai kebanyakan mereka membeli roti gandum produksi sendiri dan Addictea; sejenis teh susu yang ketika pulang saya menjadi membawa satu untuk diicip.

Apa yang istimewa? Entah, buat saya semua sederhana, rotinya, kopi panasnya atau tempatnya. Tapi selalu ada perasaan senang yang muncul ketika saya mengingatnya; oleh karena itu saya menyebutnya the Roti Gempol thingy. Ada perasaan yang membuat saya ingin kembali ke sana, memesan roti bakar gandum dengan telur keju daging dan kopi susu panas. Memerhatikan orang yang silih berganti memesan roti gandum dan minta dipotong menjadi 8 atau 10 potong, memilih dan menanyakan beberapa rasa Addictea, menikmati suara mesin kasir lama ketika orang membayar belanjaannya.

Kalau kata orang, bahagia sederhana dan saya tidak mungkin menolak untuk setuju dengan pepatah itu. Bahagia saya sederhana, sesederhana Roti Gempol dengan segala yang terjadi didalamnya, sesederhana saya bisa diskusi apa saja dengan mas partner saya, dan selalu menyebutnya dengan brain-heart-stomach-orgasm. Level bahagia saya, brain-heart-stomach-orgasm :)


Kadang tidak perlu membayar mahal untuk sebuah bahagia, karena saya yakin, bahagia kadang bukan tentang harga, tapi tentang rasa.


picture by Eugene Clara, from deviantart

Jadi, kalau sewaktu-waktu ke mBandung, mencari makanan ringan nan enak nan tempat sepi untuk menepi dari ramainya kehidupan, coba mampir ke Roti Gempol. Siapa tahu kita bertemu dengan bahagia, dengan cerita lain disana.

Keberadaan Ku

By 11/24/2014

Aku tidak bisa berbuat banyak, hanya mendoakan mu. Semoga itu cukup.


Oh ya! Ada satu lagi, aku akan selalu jadi pendukung setiamu, seseorang yang selalu ada di belakang kamu untuk terus meminta kamu tidak menyerah, untuk terus meneriaki kamu segera bangkit kalau kamu jatuh.



 

Semoga cukup bagi mu, keberadaanku.


Past, Present and Future

By 11/23/2014

Di kamar gue yang temaram, gue berkali-kali melihat foto-foto kita, mengunakan jubah hitam bergaris hijau dua, topi persegi limanya dengan tali yang bergelayutan yang acap kali menganggu wajah kita. Sebuah foto yang bukan berbingkai kayu atau material lainnya. Foto ajaib yang kalian bingkai dengan senyum kebahagian dan kelegaan kalian karena satu fase telah berhasil dilalui. Gue dan kita semua tahu bagaimana jungkir baliknya kita hingga akhirnya ada dititik ini.

Dari foto ini, gue seakan diajak memutar semua cerita dan kenangan bareng kalian, sebuah jalan pembuka yang menghantarkan gue menemukan bahwa kebahagiaan bagai udara yang tak akan habis dan bersama kalian gue merasakan itu. Menjadi sebuah titik dimana gue menemukan pertemanan langka yang patut dilestarikan, karena mengesampingkan status, harta, fisik, cara berpikir bahkan tipe kepribadian. Kalian menerima tanpa memberi syarat dan ketentuan apapun.
 

Definisi tentang kalian; doa yang terjawab. Sedalam itu.

Buat gue bertemu kalian bukan sebuah kebetulan, tapi ada doa yang terlayang ke langit Tuhan pada sebuah malam untuk minta dipertemukan dengan orang yang akan tulus menerima aneh dan ribetnya gue, menerima gue sebagai teman, keluarga, musuh, lawan diskusi ngawur, tempat menumpahkan amarah, atau bahkan si pembersih kamar.

Tuhan menjawab, tidak hanya satu, bahkan sembilan. Gue? Mulai dari titik itu gue kembali percaya bahwa teman yang sidang kita di depan muka, marah-marah karena kita salah atau sesederhana membawakan makan malam saat jaga, ternyata masih ada. Beanar-benar ada.

Dan itu kalian. Sembilan kepala dengan sembilan kepribadian, sembilan tingkah aneh, sembilan selera makan dan film, sembilan kebiasaan dan sembilan-sembilan yang lainnya.


Lantas, sebuah kenyataan memberhentikan acara nostalgia gue, memaparkan sebuah keadaan bahwa dari titik ini, dari tempat kita berfoto bersama dan setelah kita keluar dari gedung itu. Kita akan berjalan sesuai dengan rotasi dunia kita, tidak lagi sama, tidak lagi di OrangeBox. Masing-masing kita akan ada di dunia, mimpi dan tujuan hidup yang saling berbeda.

Gue kapan ketemu kalian lagi, gaes?

Gue akan kangen kalian. Akan sangat begitu.
Bahkan sekarang sudah.

Gue si anak bontot ini pasti akan kangen tingkah kalian. Gue akan kangen dimarahin Ilmi, aduin Ayu ke Ebay karena Ayu takut sama Ebay, gangguin Pipik yang digodain-able, minta dikupasin buah sama kak Okky, ketawain polah tidurnya Silmi, dijewer Dhyta karena ga mau makan, atau dengerin nyanyian Ani-Rhoma-nya Sari.

Gue pasti kangen masa masa itu.

Gue pasti akan bandingin teman kelompok internship kalau kita tidak satu kelompok sama kalian, gue pasti akan sebel sama suami kalian kalau larang kalian ketemuan sama kita atau bawa kalian ke tempat jauh, gue pasti sesungguhnya iri sama pacar kalian karena lebih prioritas pacar ketimbang kita.
 
Perpisahan memang hal brengsek dari sebuah pertemuan, tapi untuk kalian, kamus hidup gue telah kehilangan kata "pisah", setidaknya kalian akan abadi di hidup gue. Kalian akan tetap kalian, sudah masuk ke dalam daftar cinta ke empat dihidup gue, akan terus menjadi past, present and my future.


Terimakasih buat semua A-Z yang kalian kasih kepada gue, yang tidak bisa terurai dengan kata. Apapun itu.



Regrads,

Ayu Retno

Dear, Silmi...

By 11/21/2014

Tiba-tiba lagi banyak inspirasi buat nulis, dan bertepatan ulang tahun Silmi, maka gue dedikasikan tulisan ini buat Silmi :))


Selamat merayakan hari kebahagian, Silmi. Dua puluh empat tahun yang lalu ketika lo menangis tapi justru orang sekitar lo sedang berbahagia dan lega. Pun sekarang, berbahagia lah berlipat-lipat karena bukan menangisnya lo yang membuat orang sekitar lo bahagia, tapi karena bayi yang baru lahir dulu, kini telah menjelma seorang perempuan baik nan cantik, yang menebar banyak kebaikan hingga orang sekitar bahagia berada di sekitar lo.

Selamat merayakan usia baru, usia paling gamang dalam hidup karena akan banyak pilihan, tanggung jawab serta evolusi kedewasaan yang akan berdatangan. Tapi tidak perlu khawatir, karena hari ini, akan ada yang banyak berdoa buat Silmi. Berdoa untuk segala kemudahan dan kelancaran hidup, untuk diberikan pilihan yang lebih mudah, untuk diberikan kekuatan seabrek-abrek bila masalah datang bertubi-tubi, untuk diberikan petunjuk dan jalan yang senantiasa baik menghadapi evolusi kehidupan.

Dan, doa itu pun terhatur dari gue.

Selamat ulangtahun!

Semoga segala kebaikan yang Silmi tebar akan berbuah menjadi kebahagian di dunia ini pun di kehidupan nanti yang abadi, akan berbuah menjadi mimpi yang terealisas atau rezeki yang mengalir deras.

Selamat memasuki umur baru.
Jangan khawatir akan umur yang menua, tapi bersyukurlah karena ini kado langsung dari Tuhan yang siapapun tidak dapat memberikannya :))


Terus lah menjadi sinar buat sekeliling lo, menjadi sumber kebaikan atau alasan orang lain tersenyum-- setidaknya buat Arif Marco. HAHA

Amin.